Review Film: Black Christmas (1974)

Leave a Comment
Review Film: Black Christmas (1974)
Review Film: Black Christmas (1974) via Imdb.com

Jika kamu menginginkan horor slasher yang tidak biasa, kamu bisa menonton film Black Christmas (1974). Yup, sesuai dengan judulnya, film horor karya sutradara Bob Clark ini mengisahkan teror yang bertepatan pada hari Natal. Seperti biasanya, tentu Hari Raya Natal kerap dilaksanakan dengan berkumpul bersama sahabat, atau keluarga. Hal ini jugalah yang dilakukan oleh penghuni asrama putri Pi-Kappa-Sigma. 

Penghuni asrama Pi Kapp Sigma berkumpul merayakan Hari Raya Natal
Penghuni asrama Pi Kappa Sigma berkumpul merayakan Hari Raya Natal  
Setelah adegan pembuka tersebut, tiba-tiba kita dibawa ke sudut pandang pelaku teror, yang nggak tahu kenapa pengin membuat asrama tersebut sebagai target aksi berikutnya. Pelaku teror yang wajahnya tidak disorot ini tampak berhasil masuk ke dalam asrama kemudian memilih bersembunyi di loteng.

Kebahagiaan penghuni asrama Pi Kappa Sigma merayakan Hari Natal ternyata tak berlangsung lama. Usai para tamu laki-laki pulang karena sudah jam malam, teror pun mulai berdatangan. Awalnya, teror ini berupa seringnya telepon iseng yang diterima Jess (Olivia Hussey) di asrama tersebut. Tapi, isengnya tuh nyebelin banget yang jorok berbau mesum gitu. Hal ini tentu membuat para penghuni asrama jadi jijik, sehingga Barb (Margot Kidder) yang memang anaknya rebel banget nggak tahan buat membalas omongan si penelepon tersebut. Bukannya malah takut, si penelepon malah mengancam akan membunuhnya.

Jess menerima telepon iseng
Jess menerima telepon iseng
Salah satu penghuni asrama bernama Clare (Lynne Griffin) yang tak tahan dengan perilaku Barb, kemudian memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan berkemas, karena besok dia akan dijemput oleh orangtuanya. Tapi, tiba-tiba dia melihat keanehan pada lemarinya, yang semula ia kira Claude, kucingnya tapi justru ternyata adalah pelaku teror yang telah bersembunyi dan akan membunuh kemudian membungkusnya dengan plastik dan dibawa ke loteng asrama.

Clare dibungkus plastik dan diikat di kursi yang terdapat pada loteng
Clare dibungkus plastik dan diikat di kursi yang terdapat pada loteng
Bukan, dia bukan Gilang Bungkus, tahan, walau setelah melakukan hal menyeramkan pada Clare si pelaku malah nyanyi tentang bungkus-bungkus juga.

If this picture doesn't make your skin crawl...it's on TOO TIGHT.

Seperti yang kita tahu, Clare sebetulnya sudah janjian di suatu tempat untuk dijemput orangtuanya. Nah, ayah Clare yang sudah menunggu di tempat penjemputan ini merasa janggal karena anaknya nggak nongol-nongol. Akhirnya ayah Clare pergi ke asrama, mencari keterangan dari Chris Hayden  (Art Hindle) kekasih Clare hingga minta bantuan kepada polisi yang juga tetap hasilnya nihil.

Ayah Clare menunggu anaknya untuk menjemputnya pulang ke rumah
Ayah Clare menunggu anaknya untuk menjemputnya pulang ke rumah
Nggak berhenti di situ, teror ternyata masih berlangsung. Mulai dari seringnya telepon aneh dan mesum hingga mulai terbunuhnya satu persatu penghuni asrama tersebut.


Meski ceritanya agak terkesan repetitif seperti film horor slasher pada umumnya, ternyata ada hal-hal unik pada film Black Christmas (1974) ini. Yup, kita diberikan rasa mencekam sekaligus penasaran sampai akhir film, siapa sih sebenarnya pelaku teror ini, yang pada di akhir film kita diberikan sesuatu "yang tidak biasa" (sukses bikin saya masih kepikiran sampai sekarang). Selain itu, biasanya kan kalau di film horor slasher yang duluan mati terbantai adalah anak rebel dan nyebelin gitu, tapi di Black Christmas justru yang pertama tewas adalah Clare yang bisa dibilang adalah cewek baik-baik. Jadi ya pelakunya tampak seperti asal aja milih korbannya. Tak hanya menegangkan, film Black Christmas (1974) juga menyajikan sedikit selingan humor dari ibu asramanya yang nyentrik, pemabuk dan agak rebel sekaligus kocak yang harus berhadapan dengan ayah Clare yang tampaknya adalah orang yang "lurus". Btw waktu lihat ayahnya Clare yang tampak anteng, diem dan tetap kepala dingin mencoba mencari keberadaan putrinya ini bikin saya jadi sedih huhu.

Ayah Clare dan ibu asrama Pi Kappa Sigma
Ayah Clare dan ibu asrama Pi Kappa Sigma
Nah buat kamu yang pengin nonton film horor slasher yang agak beda dari biasanya, atau penasaran dengan nasib Jess dan teman-temannya menghadapi teror yang tak kunjung berakhir tersebut, film Black Christmas (1974) bisa jadi pilihanmu kali ini. 

Well, selamat menonton! (*)

0 komentar:

Posting Komentar